Peraturan Menteri Kesehatan Tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dan Psikotropika

Beberapa contoh Narkotika

Tribratanewsjepara.comJakarta, Menteri Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan 2 Peraturan Menteri Kesehatan yaitu Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dan Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika dalam rangka Penegakan Hukum mengingat banyaknya narkotika dan psikotropika jenis baru. Era kejayaan narkotika jenis baru sebentar lagi akan berakhir.

Peraturan Menteri Kesehatan ini, akan memberikan jaminan kepada penyidik baik polisi maupun BNN untuk tidak ragu memproses pengedar berbagai narkotika jenis baru yang semakin lama makin bertambah. Salahsatunya adalah tembakau gorilla yang beberapa waktu kemarin eksis.

Pemberantasan peredaran gelap narkotika terus dilakukan Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional (BNN) sepanjang tahun 2016. Selain melakukan penangkapan, BNN juga berhasil mengidentifikasi sebanyak 46 narkotika jenis baru atau New Psychoactive Substances (NPS). dari jumlah tersebut, 18 diantaranya sudah masuk lampiran Permenkes Nomor 13 Tahun 2014, sedangkan 28 lainnya masih dalam tahap pembahasan.

Peredaran narkotika jenis baru ini sudah terpantau tapi belum bisa ditindak. Barang-barang haram yang diperkirakan berasal dari Belanda, dan Cina ini terus menghujani pasar dalam negeri.

Untuk download kedua Peraturan Menteri Kesehatan tersebut, silahkan klik dari googledrive Penulis

Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika silahkan klik  https://drive.google.com/file/d/0BytrWSo7Hc0_bXE3Wm1jZE95dFU/view?usp=sharing

Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika silahkan klik  https://drive.google.com/file/d/0BytrWSo7Hc0_RWNoVVBZSDlHVFE/view?usp=sharing

Say No To Drug !!!

Sumber : http://tribratanews.polri.go.id/?p=24808

POLMAS AWARD III : Polda Jateng Juara I Tingkat Nasional

Tribratanewsjepara.com –  JAKARTA, Polda Jateng  berhasil merebut juara 1 dalam ajang “Polmas Award III”   tahun 2016/ 2017 tingkat nasional yang diselengarakan oleh Mabes Polri dan berhak menerima Tropi Kapolri, Rabu (11/01/2017) selain itu Polda Jateng berhak memperoleh 3 tiket pelatihan ke Jepang yang diikuti oleh 2 personil Babinkamtibmas dan 1personil  perwira yang ditunjuk Polda Jateng.

Menurut Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Drs Rikwanto peringkat berikutnya setelah Polda Jateng,  Polmas Award  juara II diraih oleh Polda Sultra dan berhak menerima Tropi JICA, disusul Juara III Polda Metro Jaya yang berhak menerima Tropi Kabaharkam Polri, Polda Bali sebagai juara IV dan berhak menerima Tropi Kalemdiklat Polri, Juara V diraih oleh Polda Sulteng dan berhak menerima Tropi Dirbinmas Baharkam Polri. Setiap Polda yang jadi pemenang akan memperoleh kesempatan pelatihan ke Jepang.

“Ya, hasil Polmas Award 3 Polda Jateng mendapatkan juara I tingkat Nasional, Semoga hasil lomba kali ini dapat memacu anggota Polri terutama Babinkamtibmas untuk makin meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan sekitarnya ,” tegas Karo Penmas Brigjen Drs Rikwanto, Rabu (11/01/2017).

Sumber : http://tribratanews.polri.go.id/?p=23976

Liliana Wijaya Jonni, Perwira Muda Keturunan Tionghoa Asal Jepara

Tribratanewsjepara.com – AWAM diketahui, warga keturunan Tionghoa di Indonesia banyak terjun ke dunia usaha. Sangat sedikit yang menjadi abdi negara. Di antara yang sedikit itu ada Lili chai, perwira pertama (pama) di Polres Balikpapan.

Pada pandangan pertama, mudah menebak kalau Lili adalah sosok keturunan Tionghoa. Kulit putih. Bermata sipit. Satu lagi; bersenyum manis. Meski berbalut seragam polisi, pembawaan dara bernama lengkap Liliana Wijaya Jonni selalu ramah. Selain memang kepribadiannya yang mudah bergaul, juga tuntutan tugas.

Ya, perwira berpangkat Inspektur Dua (Ipda) berusia 23 tahun itu menjabat Kanit Dikyasa Satlantas Polres Balikpapan. Unit yang fokus memberikan penyuluhan dan pemahaman secara langsung kepada masyarakat seputar lalu lintas. Di Polda Kaltim, Lili tercatat satu-satunya polisi keturunan Tionghoa yang muslim.

liliana-wijaya-jonni-perwira-muda-keturunan-tionghoa

Anak kedua dari tiga bersaudara ini kelahiran Jakarta. Besar di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dari keluarga besarnya, hanya dia yang menjadi polisi. “Baru saya (menjadi penegak hukum), paling banyak jadi pedagang,” ungkapnya. Garis keturunan Tionghoa didapatkan Lili dari ibunya, Sri Astuti. Sri lahir di Jepara dan besar di Sintang. Ayah dan ibu Sri atau kakek dan nenek Lili penduduk asli Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar). Keseharian keluarga besarnya di Sintang menggunakan bahasa “Khek”. Bahasa daerah yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Sedangkan ayahnya, Jonni Amidal asli Sumatra Barat. Dari cerita orangtuanya, dulu hendak menikah sangat susah. Ini dikarenakan, ibunya keturunan minoritas. “Cerita Amoi (panggilan ibu saya) dulu susah menikah kalau berbeda etnis, namun akhirnya jadi juga,” tuturnya, tersenyum.

Lulusan Akpol 2015 ini memang punya cita-cita menjadi polisi. Dipengaruhi kebiasaan semasa kecil, gemar nonton film seputar superhero. Tak pikir panjang, setelah lulus dari SMA  1 Jepara 2010, dia langsung mendaftar sebagai calon polisi. Mengikuti serangkaian tes, Liliana lolos. Namun, kala itu penentuan kuota dilakukan secara nasional. Tidak dihitung daerah. Lili pun gagal. Dia sempat down. Mengalami masa-sama kesedihan mendalam.

Bahkan sang ibu yang mengetahui hasil pengumuman ikut menangis. “Saya baru kali pertama lihat ibu nangis, ya waktu itu,” kata Liliana yang nyaris meneteskan air matanya ketika bercerita.Beberapa bulan kemudian, kesedihan mulai pudar. Dia pun terus berlatih dan mempersiapkan diri untuk mendaftar kembali pada 2011. Berkat tekad dan usaha, Lili meraih urutan satu nasional penerimaan Akpol. “Allah memuluskan proses pendaftaran hingga mengikuti serangkaian pendidikan akhirnya lulus pada 2015,” katanya.

Mengetahui lulus pendidikan, keluarga besarnya terang bangga. “Bangga karena satu-satunya keturunan kami yang jadi polisi ya saya,” kata pemilik sapaan Cece bagi para keluarga dan keponakannya itu. Selama pendidikan, tak hanya dirinya taruni (sebutan siswi akpol) yang keturunan Tionghoa. Ada pula seniornya. “Tidak ada minoritas, semua diperlakukan sama,” katanya, mengenang. Bahkan Liliana dipercaya menjadi kepala peleton (Danton). Dia membentuk pula Korcin (Korps China).

“Ada Korcin waktu jadi taruni, ngumpul per daerah buat seru-seruan,” katanya, tertawa lepas. Dalam waktu dekat, pemilik gelar Sarjana Terapan Kepolisian (STK) ini akan melanjutkan S-2 bidang transportasi di Leeds University, Inggris. “Kebetulan ada beasiswa, saya mengurus dan alhamdulillah lolos,” ucapnya.

Setelah lulus Akpol tahun lalu, Lili langsung ditempatkan di Polda Kaltim. Tugas awalnya sebagai Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (Ka SPK) Polres Balikpapan kemudian Kanit Dikyasa. Pengalamannya bertugas, dirinya sempat dibuat pusing mencari pelaku penculikan. Rupanya, pelakunya keluarga dekat korban. “Kejadiannya pas puasa, kita muter-muter cari pelakunya eh sekalinya keluarga dekat,” kata Lili.

 

Sumber  : http://tribratanews.polri.go.id/?p=8619