Polsek Tahunan Kandangkan Sepeda Motor Hasil Razia Balap Liar Di Kali Tekuk

IMG-20160605-WA0027
Barang Bukti Hasil Razia Balapan Liar Di Kali Tekuk Tahunan

Tribratanewsjepara.com – Kepolisian Sektor Tahunan, berhasil mengamankan pelaku balap liar di Jalan raya depan SPBU Kali tekuk kecamatan Tahunan pada Sabtu (04/06) dini hari.

Dari informasi dan laporan masyarakat yang disampaikan ke Polsek Tahunan menyampaikan, lokasi ini acap kali digunakan untuk balap liar dan dinilai sangat mengganggu serta membahayakan bagi pengguna jalan lain yang melintas di jalan tersebut serta sudah sangat meresahkan masyarakat.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek Tahunan Ajun Komisaris Polisi Budi Santosa, SH memimpin secara langsung razia balap liar di lokasi tersebut. Dan kami berhasil mengamankan barang bukti berupa 12 unit kendaraan roda dua berbagai jenis dan merk yang diduga digunakan untuk balapan, dan rata-rata para pelaku balap liar masih anak-anak dan remaja yang notabenenya belum mempunyai SIM yang merupakan syarat utama bagi pengendara kendaraan bermotor.

Walaupun sering kami razia namun mereka selalu kucing-kucingan dengan petugas kepolisian, untuk itu kami menghimbau agar masyarakat pengguna jalan tetap waspada dengan adanya aksi balapan liar ini dan dimohon untuk segera melaporkan pada pihak yang berwajib agar dapat segera ditangani, terang Kapolsek Tahunan.

Operasi Pekat : Polsek Kedung Amankan Ratusan Mercon

IMG-20160603-WA0098 IMG-20160603-WA0096Tribratanewsjepara.com – Jum’at (03/06) sore, Polsek Kedung melaksanakan operasi Pekat dengan sasaran judi, prostitusi, handak, premanisme, pornoigrafi, narkoba dan miras di wilayah hukum Polsek Kedung.

Operasi pekat dipimpin oleh Kanit Reskrim Polsek Kedung AIPTU Agus Y bersama 3 anggota Polsek Kedung melakukan inspeksi mendadak dan pemeriksaan di warung-warung dan penjual kembang api.

Selama kegiatan tersebut anggota kami berhasil mengamankan kurang lebih 924 petasan yang diamnakan dari dua orang penjual kembang api di dua lokasi yang berbeda. Penjual kembang api tersebut adalah Saudari Mundofiyah (28 Th), dagang, desa Rau 01/03 kecamatan Kedung kabupaten Jepara dengan barang bukti yang diamankan adalah 722 (tujuh ratus dua puluh dua) biji petasan jenis cabe rawit dan 62 (enam puluh dua) biji petasan jenis wajik. Sedangkan yang satunya adalah Saudara Anjas Maulana (29 Th), swasta, desa Sowan Lor 07/02 kecamatan Kedung kabupaten Jepara sebanyak 140 (seratus empat puluh) biji petasan jenis cabe rawit juga ikut diamankan, terang Kapolsek kedung AKP Hendrik Irawan, SH.

Sosialisasi Gerakan Pungut Sampah Di Desa Surodadi Kecamatan kedung

IMG-20160603-WA0045Tribratanewsjepara.com – Jum’at (03/06) pagi, Kanit Sabhara Polsek kedung IPTU Suparma, SH bersama dengan instansi samping melaksanakan sosialisasi gerakan pungut sampah (GPS) bersama pelajar dan masayarakat desa Surodadi kecamatan Kedung kabupaten Jepara.

Kegiatan ini diikuti lebih kurang 200 orang peserta dari berbagai kalangan. Pungut sampah tersebut dimulai dari perkantoran dan fasilitas umum serta lokasi lainnya. Menyapu kotoran-kotoran dan sampah yang berserakan di pinggir jalan serta membersihkan got-got atau selokan yang dipenuhi oleh sampah terutama sampah non organik yang susah terurai oleh tanah seperti plastik sisa makanan dan minuman atau limbah rumah tangga lainnya.

Hal yang menarik dari kegiatan tersebut adalah antusiasme masyarakat yang sangat luar biasa. Masyarakat yang terlibat meliputi anak-anak hingga orang dewasa, mereka sangat senang dan sukarela bahu membahu memungut dan membersihkan sampah agar lingkungan mereka menjadi bersih, nyaman dan enak dipandang.

Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk mengajak dan menumbuhkan serta meningkatkan jiwa gotong royong dalam menjaga dan merawat lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Kami juga menghimbau kepada warga masyarakat sekitar untuk berperilaku hidup bersih dan sehat dengan cara membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, tutur Kapolsek Kedung melalui Kanit Sabhara IPTU Suparma, SH.

 

IMG-20160603-WA0046 IMG-20160603-WA0044 IMG-20160603-WA0047

Ribuan Penonton Saksikan Penampilan Band Tipe-X Di Bandengan

   DSC02326 DSC02348 Tribratanewsjepara.com – Minggu (05/06) siang, Polres Jepara melaksanakan pengamanan konser musik Band asal ibukota TIPE-X di lapangan pantai pasir putih Bandengan.

Konser dengan musik pembuka dari orkes melayu Romansa ini mendapat pengamanan ketat dari personil gabungan Polres Jepara, Kodim 0719 Jepra dan Sat Pol PP Polres Jepara sebanyak 183 personil yang sudah diploting sesuai dengan sektornya masing-masing dan disesuaikan dengan tingkat kerawanan baik di dalam pagar maupun di luar pagar.

Kapolres Jepara AKBP M. Samsu Arifin, SIK, MH melalui Perwira pengendali yang mengambil apel kesiapan pengamanan di lokasi pantai pasir putih Bandengan menyampaikan agar setiap personil memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga pengamanan dapat berjalan dengan optimal. Dan kepada para perwira pengendali di masing-masing sektor agar benar-benar bisa mengendalikan sumber daya yang ada.

DSC02319AKBP M. Samsu Arifin, SIK, MH menuturkan bahwa setiap penonton yang akan menyaksikan konser ini harus melalui pemeriksaan ketat personil pengamanan yang ada di pintu masuk, mereka diperiksa satu persatu secara detail mulai dari sabuk, saku, baju atau jaket sampai dengan barang bawaannyapun tak luput dari pemeriksaan. Tak jarang penonton yang mencoba membawa Miras dengan cara disembunyikan di balik baju dan celana mereka, penonton yang kedapatan membawa Miras langsung diamankan oleh petugas pengamanan untuk dilakukan pembinaan agar tidak melakukan perbuatan yang sama dilain waktu.

Kapolres Jepara menerangkan personil pengamanan mendahului dengan melakukan apel kesiapan di lokasi pada pukul 10.00 dilanjutkan dengan melaksanakan razia / sweeping terhadap pedagang yang berada di sekitar lokasi konser. Sampai dengan akhir pertunjukan sekitar pukul 16.45 Wib petugas pengamanan berhasil mengamankan sekitar 181 liter minuman keras (Miras) berbagai jenis dengan rincian 77 botol ukuran 1,5 liter Miras jenis ciu  oplosan, 113 botol ukuran 600 ml jenis ginseng oplosan dan 6 botol anggur merah serta 7 botol bir bintang.

IMG-20160605-WA0038
Hasil Ops Miras Di Lokasi konser Tipe-x

Alhamdulillah konser yang disaksikan lebih dari 10.000 penonton tersebut dapat berjalan dengan aman dan terkendali, tutup Kapolres Jepara.DSC02438 DSC02322

Kapolres Jepara Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Penghargaan dan Pemberian Reward

DSC02487 DSC02469Tribratanewsjepara.com – Kepala Kepolisian Resor Jepara, Ajun Komisaris Besar Polisi M. Samsu Arifin , SIK, MH memimpin upacara Korps Raport Kenaikan Pangkat Penghargaan setingkat lebih tinggi TMT 01 Juni 2016 dari Inspektur Polisi Satu (IPTU) menjadi Ajun Komisaris Polisi (AKP).

Upacara penghargaan kenaikan pangkat tersebut dihadiri para Kabag, para Kasat, Perwira dan seluruh anggota Polres Jepara yang dilaksanakan di halaman apel Polres Jepara pada hari Senin (06-06-2016) kemarin.

Kenaikan pangkat penghargaan tersebut diberikan kepada Perwira Urusan (Paur) Humas IPTU Sutikno yang dinaikan pangkatnya setingkat lebih tinggi menjadi Ajun Komisari Polisi (AKP).

Kenaikan pangkat penghargaan diberikan terhitung 3 bulan sebelum personel Polri yang bersangkutan akan menjalani masa pensiun. Namun, tidak semua anggota Polri yang akan pensiun mendapatkan kenaikan pangkat penghargaan, hanya personil yang memiliki tanda kehormatan Bintang Bhayangkara Narariya. Kenaikan pangkat ini merupakan penghargaan dari negara dan pimpinan Polri atas jasa dan pengabdian selama bertugas di Kepolisian Negara Republik Indonesia, terang AKBP M. Samsu Arifin, SIK, MH pada amanatnya.

Disela-sela upacara pelantikan ini, Kapolres Jepara juga memberikan reward atau penghargaan kepada personil Polres Jepara yang telah mengabdi dan berdedikasi serta memiliki kinerja yang baik. Mereka yang mendapat penghargaan dari Kapolres Jepara adalah Kanit Sabhara Polsek Keling AIPTU Sudiyanto, Kasium Polsek Mayong AIPTU Fiti Sulami, PS. Kanit Intelkam Polsek Bangsri AIPDA Pujo Pranoto, Bhabinkamtibmas Polsek Tahunan BRIPKA Taufik Rakhman.

Polres Jepara Kawal Sosialisasi Rokok Tanpa Cukai Sat Pol PP

 _DSC8568Tribratanewsjepara.com – Sejumlah personil Polres Jepara melaksanakan pengawalan kegiatan sosialisasi rokok yang tidak dilengkapi dengan pita cukai dan atau pita cukai rokok palsu yang dilaksanakan oleh satuan polisi pamong praja (Sat Pol PP) kabupaten Jepara di pasar desa Lebak kecamatan Pakis Aji pada Rabu (01/06) lalu.

Sebelum berangkat melaksanakan kegiatan, terlebih dahulu petugas gabungan dari Polres Jepara dan Sat Pol PP kabupaten Jepara terlebih dahulu diberikan arahan dan pembagian tugas oleh Kepala Seksi Ketertiban Umum Anwar Sadat, S.STP.

Anwar Sadat, S.STP memberikan arahan agar dalam pemeriksaan lebih awas dan teliti karena di pasar Bangsri puluhan bal rokok tanpa cukai yang ditemukan langsung oleh kantor bea dan cukai Kudus beberapa waktu yang lalu. Selain itu juga ditekankan kepada masing-masing komandan regu harus membawa peralatan pendukung untuk melakukan pemeriksaan seperti halnya senter dan lampu ultra violet untuk mengecek pita cukai yang ada asli atau palsu.

Selesai arahan personil gabungan Polres dan Sat Pol PP langsung menuju sasaran di lokasi pasar Lebak Pakis Aji. Disana petugas dari Sat Pol PP dan Polres langsung menyebar sesuai dengan kelompoknya masing-masing dan melakukan sidak dan pemeriksaan di kios-kios pasar yang menjual rokok. Disana petugas memeriksa dengan detail setiap sudut kios, disalah satu toko ditemukan puluhan pres rokok tanpa dilengkapi dengan pita cukai. Selain itu regu yang lainnya juga menemukan puluhan bungkus rokok tanpa dilengkapi pita cukai di salah satu ruko di dalam pasar lebak, terang Anwar.

Pemilik toko/kios didata untuk dilakukan pembinaan oleh petugas dari Sat Pol PP, barang bukti diambil untuk dijadikan sampel atau contoh.

Selesai dari pasar Lebak, petugas Sat Pol PP menuju desa Mambak untuk melakukan pengecekan terhadap laporan dari masyarakat tentang adanya penjual Miras. Disana petugas mencari sasaran yang dimaksud dan benar adanya informasi tersebut, disalah satu rumah milik Mintar desa Mambak Rt 3/4 ditemukan 3 jerigen ukuran 20 liter dan 7 jerigen ukuran 25 liter masing-masing berisi ciu murni serta 5 botol ukuran 1.5 liter berisi Miras oplosan. Miras tersebut dibawa ke kantor Sat Pol PP kabupaten Jepara untuk diamankan dan pemilik Miras dilakukan Tipiring, tutup Kepala Seksi Ketertiban Umum Sat Pol PP Anwar Sadat, S.STP.

_DSC8604

 

 

SEKAPUR SIRIH TENTANG KEKERASAN (KEJAHATAN) SEKSUAL oleh Kompol Heru Budhiarto SIK, MIK

Tribratanewsjepara.com – Sejak tahun 2013, Komnas Perempuan menyatakan terjadinya peningkatan perkosaan kolektif (gang rape), seperti kasus terbaru yang menimpa Yuyun (14 tahun) di Bengkulu yang diperkosa dan dibunuh oleh 14 orang pemuda. Selanjutnya data Komnas Perempuan tahun 2016 melaporkan dari 321.752 kasus di ranah personal, maka kekerasan seksual menempati peringkat kedua, yaitu bentuk perkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual sebanyak 5% (166 kasus). Sedangkan untuk ranah publik, dari data sebanyak 31% (5.002 kasus) maka jenis kekerasan terhadap perempuan tertinggi adalah kekerasan seksual (61%); untuk ranah negara terdapat kekerasan sesksual dalam HAM Masa Lalu, tes keperawanan di institusi pemerintahan, dan lainnya. Pelaku kekerasan seksual (sex offenders) ini adalah lintas usia, termasuk anak-anak menjadi pelaku.

Pelaku kekerasan seksual umumnya memikirkan tentang waktu untuk melakukan kekerasan seksual sehingga tindakan ini pada dasarnya bukan tindakan impulsif, meskipun kadang-kadang pelaku memanfaatan kesempatan yang ada. Pelaku kekerasan seksual mengetahui (bahkan mengenal) korban dan menggunakannya untuk mengatur situasi untuk melakukan serangan seksual kepada korban. Serangan seksual dapat melibatkan kekerasan fisik, ancaman, atau kekuatan. Dalam kasus lain, korban pergi bersama pelaku karena takut melawan atau mencoba melarikan diri. Adapun perencanaan dan tindakan memanipulasi hubungan dari waktu ke waktu untuk melakukan serangan seksual disebut dengan grooming. Setelah serangan, pelaku sering mengancam, memberikan tekanan atau menggunakan rasa bersalah korban untuk tidak berbicara kepada siapa pun.

Tidak ada kesamaan karakteristik dari pelaku kekerasan seksual karena mereka adalah kelompok yang heterogen.  Secara umum ada kesamaan diantara pelaku, namun juga terdapat perbedaan, sehingga perlu berhati-hati dalam mengidentifikasi karakteristik Pelaku kekerasan seksual. Pelaku kekerasan seksual berasal dari berbagai lapisan masyarakat, baik secara usia, status sosial ekonomi, fungsi intelektual, kesehatan mental, dan jenis kelamin.

Pelaku kekerasan seksual dikelompokkan menjadi empat, yaitu child molester (korban dibawah 13 tahun), teen molester (korban antara 13-17 tahun), rapists (korban diatas 18 tahun), dan multiple (korban memiliki 2 kategori usia atau lebih). Beberapa hasil penelitian mengungkapkan child molester merupakan tipe pelaku kekerasan seksual yang paling banyak.

Secara umum karakteristik dari pelaku kekerasan seksual dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Penyimpangan gairah seksual, minat seksual, dan preferensi seksual

Terlibat dalam kontak seksual dengan anak-anak atau remaja

Memiliki kontak seksual dengan orang lain di luar kehendak mereka atau tanpa persetujuan mereka

Menimbulkan rasa sakit atau penghinaan pada orang lain

Berpartisipasi dalam atau menonton tindakan agresif fisik/ kekerasan

Mengekspos diri dalam pengaturan publik

Diam-diam menonton orang lain yang membuka baju, telanjang, atau terlibat dalam kegiatan seksual

Distorsi kognitif

Pelaku serangan seksual memiliki distorsi kognitif untuk membenarkan perilaku mereka, seperti:

Denial, dilakukan pelaku untuk menghindari konsekuensi dari tindakan mereka. Pelaku menolak untuk mengakui dihadapan orang lain, bahkan dirinya sendiri bahwa dirinya telah melakukan serangan seksual. Hal ini ditunjukkan dengan ungkapan “Itu bohong. Aku tidak pernah melakukannya” atau “Itu tidak benar-benar perkosaan, dia (korban) setuju untuk itu”.

Rationalizing, adalah menempatkan tanggung jawab kepada orang lain (umumnya korban) atau keadaan. Misalnya “Itu bukan salahku, dia membawaku pada”, “Dia tidak melawan” atau “Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, saya terlalu banyak minum alkohol”.

Minimizing, adalah meminimalkan tindakan mereka. Pelaku mencoba untuk membuatnya tampak seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah bukan masalah besar. Misalnya “Ini bukan yang buruk – ia menyukainya” atau “Aku tidak benar-benar menyakitinya”.

Memiliki hambatan sosial, interpersonal dan intimasi

Sulit berempati terhadap korban

Koping stres buruk dan ketrampilan manajemen diri rendah

Menunjukkan penyimpangan perilaku seksual

Terdapat riwayat penganiayaan

Beberapa modus pelaku dalam melakukan kekerasan seksual adalah:

Pelaku mengajak berkenalan dengan korban dan menawarkan sesuatu, seperti mengantarkannya pulang atau menjanjikan sesuatu. Setelah korban menerima penawaran tersebut maka pelaku melakukan serangan kekerasan seksual.

Pelaku memberikan minuman dimana telah dicampur dengan obat yang bisa membuat korban tidur atau pingsan, dan setelah korban tidak sadarkan diri kemudian pelaku melakukan kekerasan seksual. Obat-obatan yang digunakan oleh pelaku biasanya mudah didapatkan di apotik tanpa memerlukan resep dokter.

Pelaku menjadikan korban sebagai obyek kekerasan seksual dengan cara berawal dari media elektronik berupa jejaring sosial seperti yahoo, facebook, friendster, dll dimana usia korban sudah dapat diketahui dengan memakai kemajuan teknologi tersebut. Setelah pelaku melakukan chatting dengan korban, kemudian diajak bertemu dimana pelaku menggiring korban ke suatu tempat untuk melakukan niat pelaku yaitu melakukan kekerasan seksual.

Pelaku menculik korban dan membawanya ke suatu tempat kemudian pelaku melaksanakan serangan kekerasan seksual.

Pelaku menghipnotis atau membuat korban tidak sadar dengan kekuatan alam bawah sadar sehingga apa yang pelaku katakan akan dituruti oleh korban, seperti melaku melakukan tindakan kekerasan seksual kepada korban.

Pelaku menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan sehingga korban takut dan pelaku bebas melakukan tindakan kekerasan seksual kepada korban.

Pelaku mempunyai sifat mudah dekat dengan anak-anak atau yang sering berada di lingkungan anak-anak, mengajak bermain ataupun berbicara dengan anak kemudian mengajaknya ke suatu tempat dengan iming-iming akan diberi sejumlah uang atau hadiah. Setelah anak tersebut mengiyakan ajakan pelaku maka segera dilakukan serangan kekerasan seksual.

Beberapa faktor yang mempengaruhi tindakan kekerasan seksual, yaitu:

Faktor lingkungan

Pergaulan di lingkungan masyarakat sekitar yang terkadang seringkali melanggar norma-norma yang berlaku, seperti perkumpulan atau tongkrongan orang-orang yang suka mengganggu perempuan dan minum-minuman alkohol.

Lingkungan tempat tinggal cenderung mendukung terjadinya kejahatan, seperti lampu penerangan jalanan tidak memadai sehingga daerah tersebut menjadi gelap dan sepi.

Sistem pengamanan dari suatu daerah oleh masyarakat maupun aparat keamanan setempat kurang efisien sehingga daerah tersebut rawan dan sering terjadi kejahatan.

Pengawasan orangtua kurang, seperti anak dibiarkan bermain atau berpergian sendirian tanpa pendampingan dan pengawasan intensif, tidak mengenal teman bermain anak-anak, dan tidak mengenal teman baru anak-anak.

Orangtua mempunyai hubungan seksual yang kurang memuaskan, sehingga (umumnya) ayah (ayah tiri) akan melampiaskan hasrat seksualnya kepada anaknya sendiri.

Lingkungan sekolah dimana guru atau teman sekolah memiliki moralitas yang rendah sehingga tidak mampu mengontrol nafsu seksualnya.

Anak-anak yang tumbuh di jalanan memiliki risiko besar untuk menjadi korban kekerasan seksual.

Faktor kebudayaan

Kebudayaan yang mengarah pada keterbukaan dalam bentuk seksual (seperti gaya berbusana) dan pergaulan bebas (seperti free sex) akan mengarahkan pada perbuatan melanggar kesusilaan dan norma-norma, yang pada akhirnya memberi ruang untuk terjadinya kekerasan seksual.

Faktor ekonomi

Seseorang yang mengalami himpitan ekonomi akan mudah menjadi stres berat sehingga tidak dapat mengontrol pikiran dan perilakunya, termasuk melakukan kekerasan seksual.

Faktor media

Media yang mengandung unsur pornografi dapat mempengaruhi nafsu seksual, rangsangan dan pikiran-pikiran tidak sehat, yang pada akhirnya mendorong melakukan kekerasan seksual.

Faktor gangguan psikologis

Beberapa gangguan psikologis yang dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kekerasan seksual, seperti epilepsi, gejala sosiopatik, dan skizofrenia.

Beberapa upaya untuk mencegah kekerasan seksual antara lain:

Meningkatkan keamanan di lingkungan sekitar

Membenahi sarana dan fasilitas di lingkungan sekitar, misal menambah atau memperbaiki penerangan lampu dan mendirikan sarana pos pengamanan yang bertujuan sebagai tempat pemantauan keamanan

Perbaikan daerah-daerah yang relatif dengan tindak kejahatan khususnya kekerasan seksual, seperti rawa-rawa dan hutan disekitar lingkungan perumahan.

Pemberantasan film dan bacaan yang mengandung unsur pornografi.

Partisipasi aktif tokoh-tokoh agama dan masyarakat untuk membina dan menuntun masyarakat di lingkungan sekitar.

Masyarakat harus lebih intensif dalam menyikapi dan menyaring kebudayaan asing atau baru yang mengandung unsur negatif dan yang dapat merusak moral.

Meningkatkan fungsi keluarga, seperti perhatian, nasehat, bimbingan dan perlindungan bagi anak.

Penegakan hukum secara tegas dan konsisten, untuk memberi efek jera.

IMG-20160606-WA0048
HERU BUDIHARTO, SIK, MIK